Rabu, 05 Desember 2012

(Tugas Membuat Jurnal) BAB V


BAB V 
KESIMPULAN DAN SARAN

1. Kesimpulan
          Berdasarkan dari analisis dan pembahasan hasil penelitian di atas, kajian potensi internal perusahaan dan permasalahan usaha kecil dapat ditarik simpulan sebagai berikut:

a.  Karakteristik responden
    -  Memiliki  bidang usaha yang bervariatif dan berlokasi terpusat (sentra)
    -  Rata-rata tenaga kerja   berpendidikan rendah (SD) dan keberadaannya tidak  
       kontinyu, karena banyak pekerja pada usaha kecil sebagai pekerjaan
       sampingan, rata-rata pekerja kurang memiliki pengalaman sebelumnya.

b.   Permodalan umumnya modal milik sendiri bukan pinjam di bank atau kerjasama 
       pihak lain, dan sebagian kecil pinjam di bank

c.   Produksi
  •  Desain produk cenderung berubah , dan perubahan hanya meniru yang sudah ada di pasaran.
  • Bahan baku yang digunakan sebagian besar bahan baku lokal yang diperoleh melalui pembelian tunai dan tidak pernah membuat perjanjian secara tertulis dengan supplier.
  • Alat produksi yang digunakan masih sederhana dan rata-rata berumur tua.

d. Daerah pemasaran terbatas pada daerah sekitarnya, promosi belum banyak     dilakukan, kecenderungan melalui perusahaan dan penjual cepat puas bila produk terjual.

e. Umumnya perusahaan kecil memiliki percaya diri dan tingkat mandiri tinggi, hanya karena terbatas pengetahuan, perusahaan kecil berkembangnya lambat.


2.  Saran
          Agar perusahaan dinilai potensial berhasil, maka sebagai berikut :
  • Diperlukan perubahan cara memasarkan produk tidak hanya melalui pesanan akan tetapi penggunaan teknologi informasi yang dapat digunakan sebagai media promosi dan pemasarannya.
  • Diperlukan pembukuan yang teratur, untuk mengetahui perkembangan perusahaan yang riel dan persiapan diberlakukannya wajib pajak bagi usaha kecil.
  • Penggunaan alat produksi yang memadai, untuk meningkatkan produktivitas tenaga kerja. 
  • Adanya perhatian pemerintah yang lebih serius, tidak ada diskriminasi dengan perusahaan besar.

(Tugas Membuat Jurnal) BAB IV

BAB IV


ANALISIS  DATA  DAN PEMBAHASAN

Tabel Karakteristik Responden

Keterangan
Jumlah  Responden
1. Usia Pemilik / Pengelola
  a.      20   -   30 tahun
  b.  > 30   -   40 tahun
  c.  > 40   -   50 tahun
  d.  >  50  tahun

1 orang
8 orang
9 orang
1 orang
2.  Tingkat Pendidikan / Pengelola
  a.  SD
  b.  SLTP
  c.  SMA
  d.  Sarjana

6 orang
2 orang
6 orang
5 orang
3.  Masa Kerja
   a.   1     -      5  tahun
   b.   6     -    10  tahun
   c.   11   -    15  tahun
   d.   16   -    20  tahun
   e.      >       20  tahun

7 orang
6 orang
4 orang
1 orang
1 orang
4. Yang Merintis Usaha
  a.  Orang tua
  b.  Suami
  c.  Diri Sendiri
  d.  Bersama  orang lain

4 orang
2 orang
     12 orang
1 orang
5. Bidang Usaha
   a.  Sepatu / sandal
   b.  Percetakaan
   c.  Keramik
   d.  Konveksi
   e.  Aneka Usaha lain

2 orang
4 orang
2 orang
3 orang
9 orang
6. Pengalaman sebelum menekuni Usaha
   a.  Berpengalaman
   b.  Tidak berpengalaman

11 orang
8   orang
                          

1.Analisis Data
1.2.  Gambaran Industri Aneka dan Tekstil Yang Telah dinilai Potensial
a.  Aspek Permodalan
              Sebagian besar permodalan bersumber dari milik sendiri yaitu 57,89 %, sehingga umumnya perusahaan kecil tidak berpengaruh adanya kenaikan nilai dollar dan  adanya kenaikan suku bunga bank. Modal rata-rata yang dimiliki Rp. 50.000.000,0 s/d Rp. 100.000.000,-. Umumnya industri kecil  kurang memiliki akses memperoleh pinjaman, hal ini disebabkan dokumentasi atas kegiatan belum memadai, khususnya berkaitan dengan pembukuan, oleh karena itu pengelola tidak memiliki informasi yang cukup mengenai kinerja financial usaha yang dicapai. Dengan demikian akan terjadi kesulitan melakukan pinjaman di bank  atau proposal yang diajukan untuk memperoleh dana sangat diragukan validitasnya.
    Modal pinjaman sebagian kecil dibiayai dengan kredit perbankan  yaitu 15,79 % . apabila perusahaan mengalami kesulitan uang, maka alternatif yang dilakukan adalah memprioritaskan kebutuhan mendesak dan menundah kebutuhan lainnya. Semakin perusahaan tahu akses modal cenderung untuk memanfaatkannya, tanpa dipertimbangkan rencana dan tujuan penggunaan yang jelas, sehingga terlalu banyak kewajiban atau hutang yang harus dibayar sementara pendapatannya tetap, walaupun pendapatannya naik, tapi kurang proposional dengan hutang yang dibayar. Secara umum perusahaan sudah memisahkan keuangan keluarga dan keuangan perusahaan.
               Industri kecil umumnya, kurang setuju adanya kerjasama dengan pihak lain dalam hal permodalan, hal ini dilakukan karena adanya kekawatiran adanya ikut campur dalam pengelolaan usahanya dan pada akhirnya akan mengusai usahanya.

b. Aspek Produksi 
1. Desain produk    
Desain    produk cenderung selalu berubah,hanya meniru produk lain yang sudah ada dipasaran, perusahaan kurang berani mengubah desain produknya karena takut kehilangan pasar, sehingga sebagian besar membuat desain produknya hanya mengikuti order dari pembelinya atau melakukan variasi produk sesuai dengan kebutuhan pasar, sering melakukan pengawasan pasar serta melakukan penetapan waktu produksi untuk menghadapi permintaan produk.
 2. Bahan Baku                                                                                                  
      Sumber bahan baku yang digunakan sebagian besar bahan baku lokal atau berasal dari daerah sekitarnya, pembelian bahan baku rata-rata secara tunai.  Karena tidak pernah membuat perjanjian secara tertulis  dengan supplier  untuk mendapatkan  bahan baku secara  kontiyu, sehingga bahan baku menjadi masalah yang serius di proses produksi ketika ada permintaan mendadak atau kelangkaan bahan baku di pasaran, tapi sebagian perusahaan telah melakukan persediaan bahan baku untuk menghadapi permintaan yang mendadak.
3. Tenaga Kerja
  Tenaga kerja yang ada pada industri aneka rata-rata berpendidikan rendah, untuk itu perusahaan selalu mendorong  karyawan bekerja lebih trampil dan menciptakan cara –cara kerja yang efisien. Pada umumnya pimpinan /pengelola perusahaan lebih mudah mengendalikan atau melakukan pengawasan tenaga kerja (karyawan), karena pimpinan langsung dapat memantau langsung terhadap  masing-masing  karyawan  ketika bekerja.  Yang perlu diperhatikan mengenai tenaga kerja, kurangnya tambahan pengetahuan dari pihak perusahaan atau bekerja sama dengan pihak  diluar perusahaan  untuk memberikan pelatihan atau memberikan pengetahuan bagaimana dapat bekerja yang produktif dan lebih baik.
4. Alat Produksi
                   Sebagian besar menggunakan alat produksi sederhana untuk proses produksi, umumnya mesin yang digunakan berumur tua, dan kurang didukung adanya sumber daya yang memadai, sehingga perusahaan  kurang  dapat menghasilkan produk yang bermutu tinggi, dan terjadi produktivitas rendah yang berakibat terjadi biaya tinggi, dan akhirnya  perusahaan kecil kalah bersaing harga dengan perusahaan menengah dan besar, disamping itu perusahaan kurang mampu mengakses informasi yang berkaitan dengan hasil penelitian pusat litbang dan perguruan tinggi.

c. Aspek  Pemasaran  
          Gambaran penggunaan saluran distribusi pemasaran atau penjualan yang dilakukan selama ini dapat dilihat tabel. Saluran distribusi yang dilakukan sebagian besar pemasaran produk aneka umumnya masih menggunakan pendekatan tradisional, mendistribusikan barangnya terbatas pada penyalur yang dikenal, kurang mengetahui distribusi lanjutan  atas produknya. Kecenderungan cara memasarkan produk melalui pesanan, bila produk telah terjual, penjual cukup puas dan akses ke pasar mudah dilakukan,  sebenarnya pasar yang dicapai terbatas, dan kurang dapat berkembang, hal ini dibuktikan adanya cukup puas bila produknya terjual .
          Secara umum perusahaan belum menggunakan sarana promosi penjualan secara tepat, cara promosi penjualan yang dilakukan  sebagian besar melalui merk yang ada pada kemasan produk,  adapun pameran belum banyak diikuti, hal ini sebabkan karena faktor biaya pameran relatif tinggi bagi usaha kecil.

d. Aspek Kewirausahaan
            Kecenderungan perusahaan memiliki percaya diri tanpa bantuan orang lain usahanya dapat berjalan terus, terdapat upaya untuk memperbaiki kondisi perusahaan secara seksama, sehingga reputasi perusahaan sangat tergantung pada kemampuan yang dimiliki, sebenarnya terdapat inisiatif untuk memajukan perusahaan, hanya karena terbatas pengetahuannya, maka seringkali hal yang dilakukan sebenarnya sudah lama dilakukan pihak lain.. Hal ini seharusnya pemerintah memberikan batasan produk-produk tertentu yang diperbolehkan produksi hanya perusahaan kecil, untuk perusahaan besar dan menengah tidak diperbolehkan, atau ada kebijakan pemerintah untuk membangun jaringan usaha kecil  dengan usaha besar dalam hal memasarkan produk yang dihasilkan usaha kecil.

f.  Aspek Keunggulan Kompetitif (data pendukung)
Nilai keunggulan kompetitif menunjukkan kondisi yang menyebabkan  perusahaan beroperasi secara kontinyu di daerah tersebut dan mempunyai dasa operasi yang semakin kuat.  Berdasarkan  hasil perhitungan table diatas , Kualitas  produk dibandingkan dengan hasil industri sejenis  secara umum, perusahaan menilai hasil produksinya baik, bila dilihat dari sisi ketahanan produk, daya tarik produk, desain produk, dan kemasan, ini menunjukkan tingkat percaya diri sangat tinggi bahwa hasil produksinya bila dibandingkan industri lain sejenis  lebih baik.

(Tugas Membuat Jurnal) BAB III

BAB III
METOTODOLOGI PENELITIAN

1. Rancangan Penelitian
Dalam memperoleh gambaran penelitian mengenai potensi industri kecil dan permasalahan yang dihadapi perusahaan digunakan metode survey.dan penelitian studi deskriptif (descriptive study) tujuan studi ini untuk menjelaskan aspek-aspek yang relevan dengan fenomena yang diamati dan menawarkan ide masalah untuk pengujian atau penelitian selanjutnya, ( Nur indriantoro, 1999: 88). (Singarimbun 1989:3 dalam Moeljadi 1998 : 82) “penelitian survey adalah penelitian yang mengambil sampel dari satu populasi dan menggunakan kuisioner sebagai instrumen pengumpulan data yang pokok”


2.  Lokasi Penelitian
Penelitian ini dilakukan di Kabupaten Malang. Pemilihan lokasi ini berdasarkan pertimbangan bahwa Kabupaten Malang terdapat peluang untuk pengembangan usaha, sehingga perlu adanya pengkajian pengembangan potensi usaha kecil.

3.  Populasi dan Sampel
    a. Penentuan Populasi
    Penelitian dilakukan pada perusahaan bidang usaha aneka dan tekstil yang terdaftar pada dinas perindustrian dan perdagangan Kabupaten Malang, 2003.  Jumlah industri aneka  32 dan Industri  tekstil 48 perusahaan, home industri yang tidak terdaftar pada Dipperindag Malang  10 perusahaan, sehingga  jumlah populasi  90 perusahaan, responden  pimpinan  atau pengelola perusahaan,  dan konsultan  sebagai bahan informasi tentang kondisi industri kecil yang riil.
b. Metode  Pengambilan Sampel
        Karena   penelitian ini survey , adalah penelitian yang mengambil sample dari satu populasi dan menggunakan kuisioner sebagai alat pengumpulan data yang  pokok (Singarimbun, 198 ) ,maka dalam penelitian ini tidak dilakukan pengambilan sampel lebih dahulu dari populasi yang ada, akan tetapi yang dijadikan sampel adalah responden yang bersedia menjawab kuisioner.
c.  Teknik Pengumpulan Data
     Dalam penelitian ini terdapat dua data yaitu data pendukung (Usia, tingkat pendidikan pimpinan/pengelola, masa kerja,  bidang usaha,  jumlah tenaga kerja, dan pengalaman yang dimiliki, keunggulan kompetitif). Dan data utama  meliputi aspek  permodalan, produksi, pemasaran, kewirausahaan, dan pembukuan)

4. Teknik Analisis  Data.
Penelitian ini merupakan studi deskriptif, maka teknik analisis data yang digunakan yaitu deskriptif kualitatif. Tahapan dalam analisis data sebagai berikut :
a. Tabulasi Data ,  hasil kuisioner tersebut akan terjelma dalam angka, tabel-tabel  dari jawaban responden ke masing-masing aspek  yang ada pada industri kecil.
b. Reduksi Data, merupakan suatu bentuk analisis yang menajamkan, menggolongkan, mengarahkan, memperhalus data yang tidak perlu dan mengorganisasi data dengan cara sedemikian rupa hingga finalnya menyakinkan untuk dapat ditarik kesimpulan.
c. Analisis Deskriptif, analisis ini digunakan untuk mengungkap gambaran data lapang secara deskriptif dengan cara menginterpretasikan hasil pengolahan lewat tabulasi data  dan analisis kekuatan, kelemahan,   peluang   dan    ancaman
      (S W O T). Analisis diskriptif tersebut berguna untuk mendukung interpretasi terhadap hasil analisis yang dilakukan.

Selasa, 04 Desember 2012

(Tugas Membuat Jurnal) BAB II

BAB II


2. LANDASAN TEORI
2.1.   Pengertian dan Kriteria Usaha Kecil
 Menurut Undang-Undang Republik Indonesia Nomer 9 tahun  1995 pasal 1 angka 1;  tentang usaha kecil dan koperasi, Usaha kecil adalah kegiatan ekonomi rakyat yang berskala kecil dan memenuhi kriteria kekayaan bersih atau hasil penjualan tahunan serta kepemilikan sebagaimana diatur dalam Undang-Undang.
Kriteria usaha kecil menurut Undang-Undang Usaha Kecil dan kopersi diantaranya adalah :
a.     Memiliki kekayaan bersih paling banyak Rp.200.000.000,00 tidak termasuk tanah dan bangunan tempat usaha .
b.     Memiliki hasil penjualan tahunan paling banyak Rp. 1.000.000.000.00
c.      Milik warga negara Indonesia
d.      Berdiri sendiri bukan merupakan anak perusahaan atau cabang perusahaan yang dimiliki, dikuasi  atau berafiliasi baik langsung maupun tidak langsung dengan usaha menengah dan besar, dan
e.   Berbentuk usaha orang perseorangan, badan usaha yang tidak berbadan hukum, atau badan usaha yang berbadan hukum seperti koperasi.
     
2.2.  Lingkungan Eksternal Perusahaan
Lingkungan eksternal merupakan kondisi diluar perusahaan yang dapat mempengaruhi kehidupan perusahaan. Menurut Viljoen (1991:152 dalam Moeljadi, 1998 : 28 ) lingkungan eksternal ini sering disebut sebagai external Opportunites dan Threats, mencakup political, social, technological, economic,geographic, customers, suppliers, competitors, creditors dan labour. Glueck (1993:87) dalam Moeljadi (1998 : 28) menyebut lingkungan ini sebagai “faktor-faktor luar perusahaan yang dapat menimbulkan peluang atau ancaman”.


2.3.  Lingkungan Internal Perusahaan
Setiap usaha yang dilakukan perusahaan selalu dihadapkan pada situasi yang selalu berubah. Kondisi tersebut tidak mungkin dilaksanakan tanpa adanya proses penyesesuaian terhadap kondisi ekternal yang ada. Jadi lingkungan internal merupakan cerminan kekuatan atau kelemahan dari suatu organisasi perusahaan dan dapat mencerminkan kemampuan manajemen untuk mengelola perusahaan. Hal ini dapat menunjukkan kekuatan sumber daya, meliputi segala aspek material atau non material yang dimiliki perusahaan dalam menjalankan usaha dan fungsinya untuk berproduksi secara komersial. Konsep tersebut terdiri dari kemampuan pengusaha, kemampuan optimalisasi proses produksi yang ada, kapabilitas mengadakan ekspansi pasar, dan pengelolaan keuangannya (Hunger,1993:15 dalam Moeljadi 1998 : 33).

 
2.4.   Segi  Kelemahan Perusahaan Kecil
               Kelemahan perusahaan kecil pada umumnya, ( Marbun, 1993 )
 1. Tidak  atau kurang mempunyai perencanaan tertulis
 2.   Kurang berorientasi ke masa depan, melainkan kepada hari kehari saja
 3.  Kurang memiliki pendidikan yang relevan
 4.  Tanpa menggunakan pembukuan atau pencatatan yang teratur
 5.  Tidak ada atau jarang terjadi pengkaderan
 6.   Cepat puas
             Menurut Thomas W. dan  Norman M. ( 2002 : 23 ), sebab-sebab kegagalan bisnis  sebagai  berikut : Ketidakmampuan manajemen
Ketidakmampuan manajemen kebanyakan bisnis kecil meliputi :
-          Kurangnya pengalaman, lemahnya kemampuan pengambilan keputusan, atau lemahnya kendali keuangan,
-          Pertumbuhan tak terkendali
-          Lokasi yang kurang baik
-          Pengendalian persediaan yang tidak baik

2.5.  Segi Kekuatan  Perusahaan Kecil
            Keberhasilan pada perusahaan di mulai dari kecil sampai menjadi pengusaha nasional atau internasional, keberhasilan tersebut karena berbagai faktor antara lain faktor kejelian, ketajaman menganalisis keadaan, pandai mengikuti dan memanfaatkan situasi, tekun, mudah tanggap pada pembaharuan, dan dilakukan pembinaan terus menerus kepada bawahannya atau karyawannya.
          Kekuatan perusahaan kecil di Indonesia  antara lain karena :
a.       Tidak birokrasi dan mandiri
 b.   Cepat tanggap dan fleksibel

2.6.   Menilai Peluang Pasar
     Perusahaan selalu membutuhkan informasi dan pengetahuan tentang pasar atas produk yang dihasilkan, dengan riset pasar dapat membuat keputusan pemasaran yang lebih baik.  ( Geoffrey G : 2000). Dengan riset pasar dapat membantu :
-          menemukan pasar yang menguntungkan,
-          memilih produk yang dapat dijual,
-          menentukan perubahan dalam perilaku konsumen,
-          meningkatkan teknik-teknik pemasaran, dan
-          merencanakan sasaran-sasaran yang realistik.  
           
2.7.  Prospek  Masa Depan Perusahaan Kecil di Indonesia
               Perkembangan teknologi informasi misalnya komputer, di mana segala sesuatu bergerak dengan cepat dan situasi cepat berubah, apakah eksistensi perusahaan kecil masih dapat diharapkan  atau tidak.
               Di Jerman Barat, Belanda, Inggris atau Amerika terdapat selalu menjumpai mata rantai toko swalayan (supermarket). Namun demikian, secara keseluruhan nasib perusahaan kecil  dapat diharapkan karena beberapa alasan ekonomis dan terkadang non ekonomis. Ternyata perusahaan kecil sering berfungsi sebagai pusat-pusat komunikasi lokal dan bertemu muka sambil belanja. Di Indonesia perusahaan kecil masih potensial khususnya di kota kecil dan daerah terpencil yang merupakan penghasil produk untuk pelengkap dengan sendirinya, selain itu komposisi penduduk Indonesia yang 80 % tinggal di pedesaan.

2.8.  Analisis S W O T
           Dalam dunia bisnis, kekuatan dan kelemahan perusahaan adalah hasil analisis perbandingan antara perusahaan dan perusahaan pesaing. Misalnya perusahaan mempunyai kemampuan berproduksi secara efisien, ternyata perusahaan pesaing memiliki kemampuan teknologi yang lebih efektif dan efisien, maka bagi perusahaan tersebut merupakan kelemahan.   Analisis kekuatan, kelemahan, kesempatan/peluang, dan ancaman ( strength, weakness, opportunity, threats / SWOT )  adalah sebuah teknik yang sederhana, mudah dipahami, dan juga dapat digunakan dalam merumuskan strategi-strategi dan kebijakan – kebijakan untuk pengelolaan perusahaan. Sehingga SWOT tidak mempunyai batasan waktu, artinya akan selalu berubah sesuai dengan perkembangan jaman.         
 Tema 
ANALISIS PERANAN UKM DALAM MENGHADAPI PERKEMBANGAN KRISIS EKONOMI NASIONAL


BAB I

PENDAHULUAN


I. Latar Belakang
Krisis ekonomi merupakan musibah yang mengakibatkan pertumbuhan ekonomi yang melamban. Pertumbuhan ekonomi yang melamban. Pertumbuhan ekonomi yang melamban bukan berakar pada masalah karena kelemahan pada sector moneter dan keuangan saja, melainkan pada tidak kuatnya struktur sector ekonomi di riel dalam menghadapi gejolak dari luar (external shock) atau gejolak dari dalam (internal shock). Sebelum krisis prioritas industry pemerintah lebih memprioritaskan untuk mendahulukan industry hulu namun mengabaikan industry hilir. Ada semacam statement bahwa kalau industry hulu terbangun maka industry hilir akan mengikuti. Namun dalam kenyataanya pemerintah mengabaikan konsep membangun industry hilir yang dapat dilaksanakan. Sementara itu industry industry besar yang terbangun tetap rawan gejolak luar tersebut tidak memiliki suatu keterkaitan yang kuat baik kebelakang penyediaan imput (backward linkage) maupun kedepan (forward linkage). Terlambatnya dipromosikan UMKM dalam program membangun industry hilir dan pemihakan pemerintah terhadap pengembangan usaha besar berakibat peran yang menonjol pada usaha besar. Dengan terlambatnya dipromosikan industry hilir terjadi kepincangan yang cukup parah ketika krisis asia melanda ekonomi. Ketika terjadi krisis industry besar mengahadapi masalah serius sedangkan UMKM bekerja menurut ritme keunggulannya. Dua pola pertumbuhan industry berbeda karena antara lain mengunakan bahan baku bersumber dari dalam negeri, pemakaian tenaga kerja dengan upah yang rendah dan relative cepat bergerak kearah penyesuaian pemakaian bahan baku dan berorientasi pasar.

II. Perumusan Masalah
  1. Mengapa UKM tetap bertahan dalam keadaan ekonomi dunia yang sedang buruk?
  2. Dengan cara apa UKM bisa bersaing didalam keadaan ekonomi yang sedang tidak baik?
  3. Program perkreditan dan perkuatan permodalan apa saja yang sudah diterima  dan membantu pebisnis UKM?
III. Tujuan dan Manfaat


  1. Menganalisis jenis program perkreditan dan perkuatan permodalan usaha kecil dan menengah.
  2. Menyusun model pemberdayaan UKM di kawasan perbatasan dengan negara tetangga. Sedangkan manfaat yang diharapkan adalah:
    1. Sebagai bahan masukan dalam penyusunan kebijakan pendayagunaan atau pengelolaan produk unggulan dalam peningkatan ekspor dan pengembangan ekonomi lokal
    2. Sebagai bahan masukan dalam penyusunan kebijakan dan strategi pemberdayaan UKM kawasan perbatasan yang berbasis pada pengembangan ekonomi lokal dalam kerangka pemberdayaan kawasan perbatasan negara.

(Tugas Membuat Jurnal) BAB I


Tema
ANALISIS PERANAN UKM DALAM MENGEMBANGAN EKONOMI NASIONAL


BAB I

PENDAHULUAN

I. Latar Belakang
Perekonomian Indonesia saat ini berusaha menggeliat untuk dapat bangkit kembali setelah terpuruk atau krisis ekonomi. Pengembangan ekonomi lokal selain meningkatkan pendapatan masyarakat serta untuk meningkatkan jumlah konsumsi masyarakat dilakukan dengan cara meningkatkan kapasitas produktif masyarakat melalui industri kecil dan menengah yang sering dikenal dengan Usaha Kecil dan Menengah (UKM). Dalam hal ini diupayakan bahwa masyarakat diberi hak untuk turut serta didalam pembangunan untuk meningkatkan pola konsumtif sekaligus pola produktif. Pola produktif lokal ini secara praktek tidak terkena oleh imbas terpuruknya ekonomi global melalui berbagai investasi antar negara. Hal ini terjadi karena jumlah produksi terserap oleh konsumsi masyarakat secara lokal. Usaha kecil menengah merupakan sektor usaha yang memilki peran cukup tinggi dalam perekonomian daerah, terutama dalam penyediaan lapangan kerja. Namun demikian perkembangan usaha kecil menengah akhir-akhir ini cukup memprihatinkan terlebih dengan masuknya berbagai produk impor yang merupakan hasil usaha menengah luar negeri. Kondisi demikian akan memperlemah posisi sector usaha kecil di pasar Indonesia. Semakin melemahnya posisi sector usaha kecil di pasar, dalam jangka panjang akan berdampak pada turunnya taraf hidup masyarakat serta bertambahnya pengangguran. Oleh karena diperlukan upaya-upaya yang mengarah pada pengembangan sector usaha kecil dalam rangka memperbaiki mutu produk atau jasa sehingga mampu bersaing di pasar. Upaya untuk memperbaiki mutu produk diperlukan pengelola usaha (manajemen) dengan baik, meliputi aspek permodalan, produksi, pemasaran, sumber daya mannusia, dan pembukuan.

II. Perumusan Masalah
  1. Mengapa UKM tetap bertahan dalam keadaan ekonomi dunia yang sedang terpuruk?
  2. Bagaimana cara UKM bisa bersaing didalam keadaan krisis ekonomi ini?
  3. Kenapa tidak terlalu dikembangankan UKM yang memiliki peran cukup tinggi bagi perekonomian? 
III. Tujuan dan Manfaat
  1. Untuk memetakan (mapping) cara berpikir pengusaha, dalam pengambilan keputusan untuk menetapkan jenis usaha indsutri kecil dan rumah tangga.
  2. Menggali permasalahan yang dihadapi  indsutri kecil dan rumah tangga.
  3. Mengkaji potensi industri kecil bidang usaha aneka dan rumah tangga dari berbagai aspek

Senin, 03 Desember 2012

Jurnal Perilaku Konsumen dan Review Jurnal II (Journal International)


CONSUMER BEHAVIOR ANALYSIS AND SOCIAL MARKETING:
THE CASE OF ENVIRONMENTAL CONSERVATION

 Gordon R. Foxall
Cardiff University, United Kingdom

 Jorge M. Oliveira-Castro
 University of Brasília, Brazil

Victoria K. James
M. Mirella Yani-de-Soriano
Valdimar Sigurdsson
Cardiff University, United Kingdom

ABSTRACT
Consumer  behavior  analysis  represents  one  development  within  the  behavioranalytic tradition of interpreting complex behavior, in which a specific conceptual framework has been  proposed  (i.e.,  the  Behavioral  Perspective  Model).  According  to  this  model,  consumer behavior occurs  at the intersection of  a  consumer-behavior setting  and  an individual’s learning history of consumption and is a function of utilitarian (mediated by the product) and informational (mediated by other persons) consequences. The model has been useful in analyses of consumers’ brand choice and reactions to different settings. In the present paper, the model was applied to the interpretation of environmental deleterious behaviors (use of private transportation, consumption of domestic energy, waste disposal, and domestic consumption of water). This application pointed to specific marketing strategies that should be adopted to modify each of these operant classes.

CONSUMER BEHAVIOR ANALYSIS AND SOCIAL MARKETING

how it may be applied to and actively employed in social marketing programs aimed at the conservation of natural resources.


CONSUMER BEHAVIOR ANALYSIS AND THE BPM
Consumer behavior analysis has the agenda of applying basic behavioral laws and principles to real life consumer behavior. In doing this consumer behavior analysis models should be more able to accurately describe, predict and affect consumers. However, adding in the real life effects of consumer behavior will
certainly make the resulting models more complicated.



FOXALL, OLIVEIRA-CASTRO ET AL.
recuperation it provides. This type of holiday may also generate some punishing utilitarian consequences, such as having to face a long and tiring trip and spending a  lot  of  money. As  another  example,  one  of  the main  utilitarian reinforcing consequences of owning  a  car is to be able to get door-to-door transportation, which any car can offer. Owning a car can also produce some punishing utilitarian consequences such as having to deal with its eventual breakdowns.



CONSUMER BEHAVIOR ANALYSIS AND SOCIAL MARKETING






THE USEFULNESS OF THE BPM IN INTERPRETING CONSUMER BEHAVIOR
In all the examples of informational and utilitarian reinforcers and punishers given so far, we referred to events that usually have reinforcing and punishing functions for most  people. This  does  not imply these functions should  not  be empirically  tested  for  “the  only  way  to  tell  whether  or  not  a  given  event  is
reinforcing to a given organism under given conditions is to make a direct test. We observe the frequency of a selected response, then make an event contingent upon it and observe any change in frequency. If there is a change, we classify the event  as reinforcing  to  the  organism  under  the  existing  conditions”


Consumer Brand Choice
The  marketing  literature  suggests  that,  when  purchasing  fast  moving consumer  goods (fmcgs), consumers have a repertoire of two to four brands in each product category from which they select, as if randomly, on each shopping occasion (cf. Ehrenberg, Uncles & Goodhardt, 2004). Early consumer behavior
analysis work studied the issue of repertoire buying through the development of methodologies  based  on  behavioral  economics,  specifically  matching, maximization  and  demand  processes (see for  example Foxall & James,  2001; Foxall & Schrezenmaier, 2003). In summary, the results suggested that consumers
will buy the cheapest brand within their repertoire although this is not always the cheapest of  all the brands  available. This indicates that brands within  a  given product  category  are not  all functionally substitutable. One possible source of non-substitutability  among  brand may  be  based  on the level  of  utilitarian  and
informational reinforcement (as discussed previously) they offer to  consumers (Foxall, 1999).



Brand Choice: Informational and Utilitarian Reinforcement
Based on this distinction between utilitarian and informational reinforcement, which suggests different types of reinforcers influence consumer choices, Foxall, Oliveira-Castro and Schrezenmaier (2004) examined whether consumers’ brand repertoires (patterns of repertoire buying as discussed above) are related to the
levels of utilitarian and informational reinforcement offered by the brands. The authors based their  analyses on purchase data from  a sample of 80  consumers buying nine products (i.e., baked beans, cookies, breakfast cereals, butter, cheese, fruit juice, instant coffee, margarine, and tea) during a period of 16 weeks.


The Scope of the Consumer Behavior Setting
Alongside  informational  and  utilitarian  reinforcement,  the  scope  of  the behavior setting is  an important variable in the BPM. According to the BPM, behavior is a function of the consumer situation. From the work of Schwartz and Lacey (1988) it has been proposed that purchase and consumption activities occur in  a  continuum  which  ranges  between  relatively  open  to  relatively  closed consumer behavior settings.



A BEHAVIORAL CLASSIFICATION OF CONSUMER CHOICE
Working  with  the  proposed  bifurcation  of  utilitarian  and  informational reinforcement already described, the BPM suggests that four operant classes of consumer behavior  can be described  according to the pattern of reinforcement (i.e., high/low utilitarian and high/low informational) which maintains it. These are shown in Table 1. Behaviors classed as accomplishment are maintained by high levels of both utilitarian and informational reinforcement and may include conspicuous consumption behaviors such as buying status cars.




TABLE 1. OPERANT CLASSES BASED ON THE LEVELS OF UTILITARIAN AND
INFORMATIONAL REINFORCEMENT.




forcement are substantially lower than for the other classes of behavior, but are far from unimportant and may be controlled negatively by the removal of a threat. A more  detailed  discussion  and interpretation  of the four  operant  classes  can  be found in Foxall (1990, 1993, 1994). These  operant  classes  can  be  operationalized  alongside  the scope  of  the setting to produce eight separate contingency categories to analyze a broad range of behaviors. These categories are summarized in Table 2.





TABLE 2. CONTINGENCIES CATEGORIES BASED ON THE BPM
(ADAPTED FROM FOXALL, 1998, P. 104).






TABLE 3. CONSEQUENCES OF ENVIRONMENT-IMPACTING CONSUMPTION.






TABLE 4. SUMMARY OF DE-MARKETING STRATEGIES FOR ENVIRONMENTAL
PROBLEMS



CONCLUSION

In order to develop efficient strategies of environmental conservation, we need to identify the variables that influence consumer behaviors that produce unwanted environmental impact. Within an operant framework this implies, among other things, examining the consequences that maintain such behaviors. Only after identifying what events are reinforcing and punishing for individuals under given conditions, can one, based on an operant framework, make specific predictions and plan well-grounded interventions concerning the behavior of individuals. The distinction between informational and utilitarian consequences proposed by the BPM is a step in the direction of identifying what functions as reinforcers and punishers for consumers in general. This distinction has been useful in analyzing consumers’ brand choice and verbal responses to different consumer settings.

The present paper applied such distinctions to analyses of some relevant classes of behavior related to environmental conservation, namely, use of private transportation, consumption of domestic energy, waste disposal, and domestic consumption of water. Each of these operant classes appears to be maintained by different levels of informational and utilitarian consequences, which suggests intervention plans should adopt differentiated and specific marketing strategies to modify each behavior class.

REFERENCES

Alhadeff, D. A. (1982). Microeconomics and human behavior: Toward a new synthesis of economics and psychology. Berkeley, CA: University of California Press.


Baum, W. M. (2005). Understanding behaviorism: Behavior, culture and evolution (2nded.).
Oxford: Blackwell Publishing.
Blackman, D. E. (1980). Images of man in contemporary behaviourism. In A. J. Chapman & D.
M. Jones (Eds.), Models of man (pp. 99-112). Leicester: British Psychological Society.
Catania, A. C. (1998). Learning (4thed.). Upper Saddle River, NJ: Prentice Hall.
Bloom, P. N., & Novelli, W. D. (1981). Problems and challenges in social marketing. Journal of Marketing, 45, 79-88.
Cone, J. D., & Hayes, S. C. (1980). Environmental problems/behavioral solutions. Monterey, CA: Brooks/Cole.
Constanzo, W., Archer, D., Aronson, E. & Pettigrew, T. (1986). Energy conservation behavior:
The difficult path from information to action. American Psychologist,41, 521-528.