Rabu, 03 April 2013

PERENCANAAN PEMBANGUNAN DAERAH


Pembangunan yang baik akan terselenggara apabila diawali dengan perencanaan yang baik pula, sehingga mampu dilaksanakan oleh seluruh pelaku pembangunan serta memenuhi kebutuhan masyarakat. Untuk itu, maka proses perencanaan memerlukan keterlibatan masyarakat, diantaranya melalui konsultasi public atau musyawarah perencanaan pembangunan (musrenbang). Musrenbang merupakan forum konsultasi para pemangku kepentingan untuk menghasilkan kesepakatan perencanaan pembangunan di daerah yang bersangkutan sesuai tingkatan wilayahnya. Penyelenggaraan musrenbang meliputi tahap persiapan, diskusi dan perumusan prioritas program/kegiatan, formulasi kesepakatan musyawarah dan kegiatan pasca musrenbang.
Musrenbang merupakan wahana utama konsultasi publik yang digunakan pemerintah dalam penyusunan rencana pembangunan nasional dan daerah di Indonesia. Musrenbang tahunan merupakan forum konsultasi para pemangku kepentingan untuk perencanaan pembangunan tahunan, yang dilakukan secara berjenjang melalui mekanisme “bottom-up planning”, dimulai dari musrenbang desa/kelurahan, musrenbang kecamatan, forum SKPD (Satuan Kerja Perangkat Daerah) dan musrenbang kabupaten/kota, dan untuk jenjang berikutnya hasil musrenbang kabupaten/ kota juga digunakan sebagai masukan untuk musrenbang provinsi, Rakorpus (Rapat Koordinasi Pusat) dan musrenbang nasional.Proses musrenbang pada dasarnya mendata aspirasi dan kebutuhan masyarakat yang dirumuskan melalui pembahasan di tingkat desa/kelurahan, dilanjutkan di tingkat kecamatan, dikumpulkan berdasarkan urusan wajib dan pilihan pemerintahan daerah, dan selanjutnya diolah dan dilakukan prioritisasi program/kegiatan di tingkat kabupaten/kota oleh Bappeda bersama para pemangku kepentingan disesuaikan dengan kemampuan pendanaan dan kewenangan daerah.
Pada tingkat desa/kelurahan, fungsi musrenbang adalah menyepakati isu prioritas wilayah desa/kelurahan, program dan kegiatan yang dapat dibiayai dari Alokasi Dana Desa (ADD), diusulkan ke APBD, maupun yang akan dilaksanakan melalui swadaya masyarakat dan APBDesa, serta menetapkan wakil/delegasi yang akan mengikuti musrenbang kecamatan.
Pada tingkat kecamatan, fungsi musrenbang adalah menyepakati isu dan permasalahan skala kecamatan, prioritas program dan kegiatan desa/kelurahan, menyepakati program dan kegiatan lintas desa/kelurahan di wilayah kecamatan yang bersangkutan, sebagai masukan bagi Forum SKPD dan bahan pertimbangan kecamatan, sesuai dengan tugas dan kewenangannya dalam menyusun Rencana Kerja Kecamatan.
Musrenbang kecamatan juga menetapkan delegasi kecamatan yang akan mengikuti Forum SKPD dan Musrenbang Kabupaten/Kota. Musrenbang kecamatan, selain menjaring kebutuhan nyata masyarakat desa/ kelurahan, juga berfungsi untuk memaduserasikan dengan kebijakan pembangunan pemerintah kabupaten/kota, sekaligus mengidentifikasi program-program/kegiatan yang bersumber dari dana non APBD atau program-program nasional yang langsung ke masyarakat, seperti PNPM. Untuk menjamin agar usulan dari masyarakat ini disampaikan ke tingkat kabupaten/kota, maka para wakil/delegasi dari tingkat desa/kelurahan, para wakil dari organisasi lembaga kemasyarakatan, terutama kelompok wanita dan kelompok marginal, perwakilan SKPD, juga termasuk anggota DPRD dari daerah asal pemilihan yang berkenaan diwajibkan untuk menghadiri musrenbang kecamatan

Minggu, 03 Februari 2013

PERILAKU KONSUMEN (BAHASA INGGRIS)

Commitment Affective antecedents and consequences
Australasian Marketing Journal 11 (3), 2003 33


Background of the problem

An empirical study among 439 customers of a financial services conducted to test the hypothesis of our model and compare it with rival models. Structural (SEM) results revealed that affective commitment can best be explained by the involvement of the position. In addition, affective commitment is the key determinant of mouth, purchase intention and price sensitivity. Managerial implications, limitations and directions for future research are provided. Affective commitment is generally referred to as a perpetual commitment to the desire to maintain a relationship (Morgan and Hunt 1994). The concept of commitment is similar to the concept of long-term orientation that consists of desire and utility of the buyer to have a long term relationship with the seller (Gruen 1995). Along with Day (1969), Dick and Basu (1994) states that the stronger the commitment, the buyer is more likely to overcome potential obstacles in the buyer-seller relationship, resulting in customer loyalty. Similarly, Beatty et al. (1988) stated that commitment and loyalty are related, but according to different definitions of construction, with a commitment leads to loyalty. In line with Allen and Meyer (1990), Geyskens (1998, p 50) states that "the use of measures that measure global commitment intention to continue the relationship without consideration of the underlying motivation may disrupt or mask different, and perhaps even the opposite effect." In this study, we focus on one particular type of commitment: affective commitment. Since it has been shown that affective commitment has the most significant effect on loyalty (Harison-Walker 2001). Affective commitment can be defined as "the desire to continue the relationship because the relationship for its own sake enjoyment, aside from the instrumental value and because they have a sense of loyalty and ownership" (Allen and Meyer, 1990; Geyskens et al. 1996).
The purpose of research

The main objective of this study was to assess the effects of three psychological predecessor (engagement position, will choice and complexity of information) on affective commitment in the regulation of financial services. The purpose of this study was two-fold. First, we assessthree predecessors psychological commitments in financial services regulation. Second, we investigated the effect of affective commitment on customer loyalty. In the organizational psychology literature of different types of commitments that have been identified.
Formulation of the problem

Based on the above background, the question of whether the research is to analyze how much influence aektif commitment to customer loyalty?

Methodology

Data collected from a sample of customers of three bank branches of a Belgian bank, in three medium cities in the Flemish part of Belgium.In April 2001, customers were randomly asked to complete a questionnaire. Four hundred thirty-nine completely filled questionnaires were collected. The sample was found to be representative for a bank customer focus in terms of gender, education, age, and occupation. Multipleitem questionnaire design is based on the measurement scale that has been validated and proven reliable in previous studies. All construction is measured on a seven-point Likert scale ranging from strongly disagree to completely agree.The items measuring different constructs (will of choice, the position of engagement, the complexity of information, affective commitment, rates,insensitivity, purchasing behavior, and complaint behavior).
Result

To test our conceptual model, structural equation modeling (SEM) with observed variables performed using maximum likelihood estimation in LISREL 8.3. A variance covariance matrix is ​​computed using PRELIS program LISREL's companion and used as input for the path analysis.We then analyze the overall model, the measurement model and structural model.
Overall Evaluation Model

In the overall model, chi-square values ​​were significant (428.98 with 179 degrees of freedom), the findings are not unusual with large sample sizes (Doney and Cannon 1997). The ratio of chi-square to degrees of freedom is 2.39, which can be considered as adequate.Value of GFI (0.91) and AGFI (0.88) are slightly lower than those of the CFI (.94), IFI (0.94) and NNFI (0.93). This result is mainly attributable to the former being more easily affected by sample size and model complexity. In general, indicated a good fit, including RMSEA, a .060, and SRMR, being 0.056. Given the purpose of our study, the adequacy of the index, given the fact that the model developed on the basis of the theory, and given the relative complexity of the model, no re-specification of the model were made.
Evaluation Measurement Model

We assess the quality of the measurement model (see Table 1) in unidimensionality, convergent validity, reliability, and discriminant validity. Evidence for the unidimensionality each construct was based on the principal component analysis revealed that the corresponding items loaded at least 0.60 (except for one item of information complexity) for each hypothesized component, with a load no greater than 0.30 in other components. Convergent validity is supported by the model fit was good overall, all phonetically yangSimakBaca load significantly (p <0.01), and the SMC's exceeded 0.50 (Hildebrandt 1987). Reliability demonstrated by the reliability of composite measures all exceeded 0.70 except for the complexity of the information and complaint behavior. Discriminant validity was tested in a series of nested confirmatory factor model comparison the correlation between latent constructs constrained to 1, and the chi-square difference was significant for all comparison models (p <0.01).In addition, the average percentage of variance extracted for constructs almost all greater than 0.50, except for information complexity and behavioral complaints. In short, the measurement model (Table 1) were clean, with evidence of unidimensionality, convergent validity, reliability, and discriminant validity.
Structural Model Evaluation

We could not find a significant relationship between information complexity and affective commitment. Affective commitment clearly positively influenced by the involvement and position in the slightest by the will of choice. In addition, affective commitment plays an important role in explaining customer loyalty. These results support the findings Geyskens (1998) states that the use of a global commitment to build masked influence the types of commitments, emphasizing the importance of our focus on affective commitment. In addition, we explain more than 70% of the variance in affective commitment, which seems to be the result of the impact of the strong involvement of the position even to ignore such important antecedent for example satisfaction, beliefs and values ​​(Sirdeshmukh et al. 2002). This means that the involvement of the position is the kind of engagement that should be considered in future research.Furthermore, the focus on the kind of particualr commitment and refinement of its predecessor seems promising as our empirical results show a clear difference in terms of the direction and magnitude of the relationship between the constructs.Rival Model
It is generally agreed that researchers should compare rival models and not only test the performance of the proposed model (Bagozzi and Yi 1988; Bollen and Long 1992). In discussing the affective construct initial commitment, we provide a theoretical basis for a position as a mediating variable affective commitment. Because we hypothesized parsimonious models do not allow a direct path from one of the three that the process for customer loyalty, it indicates central nomological statusto affective commitment. A rival non-parsimonious model would be one hypothesis only direct road from each preliminary process for the four dimensions of affective commitment and customer loyalty.This model makes affective commitment nomological similar to the four dimensions of customer loyalty. Rival models tested (see Figure 3), therefore, there is no direct permission effect, implying that affective commitment is not allowed to mediate a relationship.According to Morgan and Hunt (1994), we compared our hypothesized model of rival models in the following criteria: overall fit, saving, a good percentage of the model parameters are statistically significant, and the R2 for endogenous construction. Regarding the overall fit, CFI rival models is slightly lower than the hypothetical model (0.93 vs. 0.94) and model rival's ratio chi-square to degrees of freedom is higher than the hypothetical model (2.58 vs. 2.39). In addition, eight additional pathways that need to be estimated in the model competition, reducing parsimony rival models. In addition, only 53% of the trail in a significant rival models compared with 86% in the hypothesized model, showing additional road does not mean theoretically or empirically. Finally, the average explained variance of the four dimensions of customer loyalty in the rival models are similar to the average explained variance in the model hypothesis. This suggests that the direct effect plus the effect of affective commitment indirect preliminary process in the same hypothetical model for three straight strong effect on the process in which rival models in explaining the dimensions of customer loyalty. Based on these findings, we believe that the practice of fitting rival models have strengthened the support we found meaningfulness and robustness of our hypothetical model. Besides conceptual position found support affective commitment as a mediating variable in the model hypotheses, rival empirical model shows the value added.Ignoring the role of mediation is building reduces the parsimony and results in a lower percentage of significant path coefficients.
Conclusion\


The results of this study clearly show that affective commitment is an important determinant of word of mouth, purchase intention, price insensitivity and complaining behavior to a less extent. Affective commitment relates to a sense of belongingness, a customer happy, feeling emotionally attached and feel part of a family of financial service providers. Furthermore, with regard to have comfortable and reliable relationships with financial service providers. Improving aspects of affective commitment than a positive influence on the loyalty of financial service providers, therefore, must ensure that customers are treated as individuals who are really where the organization really interested and concerned. This can be achieved by, among others, the actual personalized communication efforts and to demonstrate attachment and with a personal meaning to each and every individual customer. In line with our studies, particularly the influence of the position of engaging in stimulating affective commitment may not be ignored. The position of engagement can be created by ensuring that the image of the financial services provider comes close to the customer's lifestyle and that financial service providers reflects the personality of the customer in terms of values ​​and norms. Vulnerable customer relationships tend to reveal involvement of high-impact positions affective commitment and ultimately loyalty. Limitations and Directions for Future Research Our study should be seen as an initial effort to address an issue that has important implications for marketing theory and practice. Any initial effort will involve a number of limitations. However, recognition of this limitation also suggests new directions for future studies. The first potential weakness in this study is common method bias.Because we are using a single questionnaire to measure all constructs included, the relationship between the construction may be somewhat inflated.
Suggestion

Future studies should assess the generalizability of our findings to other contexts. Furthermore, future research should concentrate on the issues that can help management to identify, to attract and to retain customers with a strong position involvement commitment, high affective as this customer shows a high tendency to be loyal to the financial services provider. In conclusion, it is expected that the results will serve as a stimulus for additional empirical research involving ongoing relationships in service settings

JURNAL PERILAKU KONSUMEN

Nama Penulis : Chistian Andika (11210576 / 3EA10)

Judul Penelitian :
PENGARUH SIKAP TERHADAP MEREK DAN SIKAP TERHADAP IKLAN PADA MINAT BELI KONSUMEN

Sumber Jurnal :
http://library.um.ac.idfree-contentssavedocpub.phptor.doc

Masalah / Tema / Topik
1. Apakah ada pengaruh sikap terhadap merek dan pengaruh sikap terhadap iklan pada minat beli konsumen produk sabun Lifebuoy pada masyarakat di kecamatan Wonosari , Klaten secara parsial ?
2. Apakah ada pengaruh sikap terhadap iklan pengaruh dan sikap terhadap merek pada minat beli konsumen produk sabun Lifebuoy pada masyarakat di kecamatan Wonosari , Klaten secara serempak ?
3. Manakah faktor yang lebih dominan pengaruhnya pada minat beli konsumen produk sabun Lifebuoy pada masyarakat di kecamatan Wonosari , Klaten?

Tujuan Penelitian
1. Untuk mengetahui apakah ada pengaruh sikap terhadap merek dan sikap terhadap iklan pada minat beli konsumen produk sabun Lifebuoy masyarakat kecamatan Wonosari secara parsial.
2. Untuk mengetahui apakah ada pengaruh sikap terhadap iklan dan sikap terhadap merek pada minat beli konsumen produk sabun Lifebuoy masyarakat kecamatan Wonosari secara serempak.

Teori-teori yang digunakan
- Perdagangan Tidak Sinkron
- Koreksi Terhadap Bias
- Faktor-faktor yang mempengaruhi beta saham

Hipotesis
1. Diduga ada pengaruh sikap terhadap merk dan sikap terhadap iklan pada minat beli konsumen produk sabun Lifebuoy di kecamatan Wonosari, kabupaten Klaten secara parsial.
2. Diduga ada pengaruh sikap terhadap iklan dan sikap terhadap merek pada minat beli konsumen produk sabun Lifebuoy di kecamatan Wonosari, kabupaten Klaten secara serempak.
3. Diduga Sikap Terhadap Iklan mempunyai pengaruh lebih besar pada minat beli konsumen pada produk sabun Lifebuoy di kecamatan Wonosari, kabupaten Klaten.

Metode-metode Penelitian

Subjek dan Objek
Subyek dan obyek penelitian ini adalah masyarakat di kecamatan wonosari, kabupaten klaten. yang pernah melihat dan mengetahui paparan (exposure) iklan televisi dari produk sabun merek Lifebuoy.

Jenis Data
Penelitian ini menggunakan data yang bersumber dari data primer yaitu data yang diperoleh secara langsung dari responden dan data sekunder dari BPS tentang data penduduk di kecamatan Wonosari, kabupaten Klaten.

Tehnik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah kuesioner. Mengingat jenis data yang akan dianalisis kuantitatif, kuesioner menggunakan skala Likert dengan 5 pilihan yaitu mulai sangat setuju, setuju, netral, tidak setuju, sangat tidak setuju.

Uji Instrument Penelitian
a. Uji Validitas
Uji validitas digunakan untuk mengukur sah atau valid tidaknya penelitian. Uji validitas menggunakan analisis korelasi pearson, keputusan mengetahui valid tidaknya butir instrumen. Jika pada tingkat signifikan 5% nilai r hitung > r variabel maka dapat disimpulkan bahwa butir instrumen tersebut valid.
b. Uji Reliabilitas
Uji reliabilitas untuk mengetahui apakah instrumen memiliki indeks kepercayaan yang baik jika diujikan berulang. Uji reliabilitas dalam penelitian ini menggunakan rumus alpha cronbach, untuk mengetahui tingkat reliabilitas instrumen dari keempat variabel penelitian jika dari hasil uji reliabilitas instrumen dari keempat variabel penelitian jika dari hasil uji reliabilitas memberikan nilai alpha > 0,6 (Gozali, 2001).

Analisis/hasil-hasil
a.Uji Validitas
Uji validitas dalam hal ini bertujuan untuk menguji tingkat ketepatan instrumen dalam mengukur variabel merk, iklan dan minat beli. Perhitungan uji validitas instrumen menggunakan analisis korelasi pearson dengan bantuan computer program SPSS. Keputusan mengenai butir item yang dinyatakan valid dengan membandingkan nilai r hitung dengan nilai r tabel, jika r hitung > r tabel maka butir item dinyatakan valid.Berdasarkan hasil uji validitas instrument dari ketiga variabel yaitu merk, iklan dan minat beli seperti pada tabel diatas menunjukkan bahwa dari seluruh butir semuanya valid, karena nilai r hitung (korelasi) lebih besar dari r tabel.
b. Uji Reliabilitas
Uji reliabilitas instrument bertujuan untuk mengetahui besarnya indeks kepercayaan instrument dari variabel merk, iklan dan minat beli. Setelah dilakukan uji validitas dan diperoleh butir pernyataan yang valid,selanjutnya dilakukan uji reliabilitas dengan menggunakan rumus Cronbach Alpha. Keputusan untuk mengetahui bahwa instrument adalah reliable jika nilai r Alpha > 0,6.Dari hasil uji reliabilitas instrument menunjukkan bahwa ketiga variabel yaitu merk, iklan dan minat beli adalah reliabel karena nilai r Alpha > 0,6.

Kesimpulan dan Keterbatatasan
Kesimpulan
1. Variabel independen dalam hal ini adalah Sikap terhadap merk berpengaruhpada minat beli konsumen produk sabun Lifebuoy di Kecamatan Wonosari Kabupaten Klaten sehingga hipotesis pertama diterima.
2. Variabel independen dalam hal ini adalah Sikap terhadap iklan berpengaruh pada minat beli konsumen produk sabun Lifebuoy di Kecamatan Wonosari, Kabupaten Klaten sehingga hipotesis kedua diterima.
3. Variabel independen dalam hal ini adalah Sikap terhadap merk dan Sikap terhadap iklan secara bersama-sama berpengaruh pada minat beli konsumen pada produk sabun Lifebuoy di Kecamatan Wonosari, Kabupaten Klaten sehingga hipotesis ketiga diterima.
4. Nilai koefisien determinasi (R²) sebesar 0,732 atau sebesar 73,2%. Artinya bahwa 73,2% variasi variabel dependen yaitu minat beli dapat di jelaskan oleh variabel independen yaitu merk dan iklan sedangkan sisanya 26,8% di jelaskan oleh variabel-variabel lain yang diluar model.

Keterbatasan
1. Penelitian ini hanya terbatas pada sikap terhadap merk dan sikap terhadap iklan saja, sedangkan masih banyak hal yang dipengaruhi minat beli, misalnya harga, kualitas produk dan lainnya.
2. Penelitian ini tidak sesuai dengan teori karena masih ada factor lain yang mempengaruhi minat beli sepert harga dan kualitas yang menyebabkan merek berpengaruh negatif pada minat beli konsumen.3. Hanya terbatas pada Kecamatan Wonosari, Kabupaten Klaten.

Rabu, 05 Desember 2012

(Tugas Membuat Jurnal) BAB V


BAB V 
KESIMPULAN DAN SARAN

1. Kesimpulan
          Berdasarkan dari analisis dan pembahasan hasil penelitian di atas, kajian potensi internal perusahaan dan permasalahan usaha kecil dapat ditarik simpulan sebagai berikut:

a.  Karakteristik responden
    -  Memiliki  bidang usaha yang bervariatif dan berlokasi terpusat (sentra)
    -  Rata-rata tenaga kerja   berpendidikan rendah (SD) dan keberadaannya tidak  
       kontinyu, karena banyak pekerja pada usaha kecil sebagai pekerjaan
       sampingan, rata-rata pekerja kurang memiliki pengalaman sebelumnya.

b.   Permodalan umumnya modal milik sendiri bukan pinjam di bank atau kerjasama 
       pihak lain, dan sebagian kecil pinjam di bank

c.   Produksi
  •  Desain produk cenderung berubah , dan perubahan hanya meniru yang sudah ada di pasaran.
  • Bahan baku yang digunakan sebagian besar bahan baku lokal yang diperoleh melalui pembelian tunai dan tidak pernah membuat perjanjian secara tertulis dengan supplier.
  • Alat produksi yang digunakan masih sederhana dan rata-rata berumur tua.

d. Daerah pemasaran terbatas pada daerah sekitarnya, promosi belum banyak     dilakukan, kecenderungan melalui perusahaan dan penjual cepat puas bila produk terjual.

e. Umumnya perusahaan kecil memiliki percaya diri dan tingkat mandiri tinggi, hanya karena terbatas pengetahuan, perusahaan kecil berkembangnya lambat.


2.  Saran
          Agar perusahaan dinilai potensial berhasil, maka sebagai berikut :
  • Diperlukan perubahan cara memasarkan produk tidak hanya melalui pesanan akan tetapi penggunaan teknologi informasi yang dapat digunakan sebagai media promosi dan pemasarannya.
  • Diperlukan pembukuan yang teratur, untuk mengetahui perkembangan perusahaan yang riel dan persiapan diberlakukannya wajib pajak bagi usaha kecil.
  • Penggunaan alat produksi yang memadai, untuk meningkatkan produktivitas tenaga kerja. 
  • Adanya perhatian pemerintah yang lebih serius, tidak ada diskriminasi dengan perusahaan besar.

(Tugas Membuat Jurnal) BAB IV

BAB IV


ANALISIS  DATA  DAN PEMBAHASAN

Tabel Karakteristik Responden

Keterangan
Jumlah  Responden
1. Usia Pemilik / Pengelola
  a.      20   -   30 tahun
  b.  > 30   -   40 tahun
  c.  > 40   -   50 tahun
  d.  >  50  tahun

1 orang
8 orang
9 orang
1 orang
2.  Tingkat Pendidikan / Pengelola
  a.  SD
  b.  SLTP
  c.  SMA
  d.  Sarjana

6 orang
2 orang
6 orang
5 orang
3.  Masa Kerja
   a.   1     -      5  tahun
   b.   6     -    10  tahun
   c.   11   -    15  tahun
   d.   16   -    20  tahun
   e.      >       20  tahun

7 orang
6 orang
4 orang
1 orang
1 orang
4. Yang Merintis Usaha
  a.  Orang tua
  b.  Suami
  c.  Diri Sendiri
  d.  Bersama  orang lain

4 orang
2 orang
     12 orang
1 orang
5. Bidang Usaha
   a.  Sepatu / sandal
   b.  Percetakaan
   c.  Keramik
   d.  Konveksi
   e.  Aneka Usaha lain

2 orang
4 orang
2 orang
3 orang
9 orang
6. Pengalaman sebelum menekuni Usaha
   a.  Berpengalaman
   b.  Tidak berpengalaman

11 orang
8   orang
                          

1.Analisis Data
1.2.  Gambaran Industri Aneka dan Tekstil Yang Telah dinilai Potensial
a.  Aspek Permodalan
              Sebagian besar permodalan bersumber dari milik sendiri yaitu 57,89 %, sehingga umumnya perusahaan kecil tidak berpengaruh adanya kenaikan nilai dollar dan  adanya kenaikan suku bunga bank. Modal rata-rata yang dimiliki Rp. 50.000.000,0 s/d Rp. 100.000.000,-. Umumnya industri kecil  kurang memiliki akses memperoleh pinjaman, hal ini disebabkan dokumentasi atas kegiatan belum memadai, khususnya berkaitan dengan pembukuan, oleh karena itu pengelola tidak memiliki informasi yang cukup mengenai kinerja financial usaha yang dicapai. Dengan demikian akan terjadi kesulitan melakukan pinjaman di bank  atau proposal yang diajukan untuk memperoleh dana sangat diragukan validitasnya.
    Modal pinjaman sebagian kecil dibiayai dengan kredit perbankan  yaitu 15,79 % . apabila perusahaan mengalami kesulitan uang, maka alternatif yang dilakukan adalah memprioritaskan kebutuhan mendesak dan menundah kebutuhan lainnya. Semakin perusahaan tahu akses modal cenderung untuk memanfaatkannya, tanpa dipertimbangkan rencana dan tujuan penggunaan yang jelas, sehingga terlalu banyak kewajiban atau hutang yang harus dibayar sementara pendapatannya tetap, walaupun pendapatannya naik, tapi kurang proposional dengan hutang yang dibayar. Secara umum perusahaan sudah memisahkan keuangan keluarga dan keuangan perusahaan.
               Industri kecil umumnya, kurang setuju adanya kerjasama dengan pihak lain dalam hal permodalan, hal ini dilakukan karena adanya kekawatiran adanya ikut campur dalam pengelolaan usahanya dan pada akhirnya akan mengusai usahanya.

b. Aspek Produksi 
1. Desain produk    
Desain    produk cenderung selalu berubah,hanya meniru produk lain yang sudah ada dipasaran, perusahaan kurang berani mengubah desain produknya karena takut kehilangan pasar, sehingga sebagian besar membuat desain produknya hanya mengikuti order dari pembelinya atau melakukan variasi produk sesuai dengan kebutuhan pasar, sering melakukan pengawasan pasar serta melakukan penetapan waktu produksi untuk menghadapi permintaan produk.
 2. Bahan Baku                                                                                                  
      Sumber bahan baku yang digunakan sebagian besar bahan baku lokal atau berasal dari daerah sekitarnya, pembelian bahan baku rata-rata secara tunai.  Karena tidak pernah membuat perjanjian secara tertulis  dengan supplier  untuk mendapatkan  bahan baku secara  kontiyu, sehingga bahan baku menjadi masalah yang serius di proses produksi ketika ada permintaan mendadak atau kelangkaan bahan baku di pasaran, tapi sebagian perusahaan telah melakukan persediaan bahan baku untuk menghadapi permintaan yang mendadak.
3. Tenaga Kerja
  Tenaga kerja yang ada pada industri aneka rata-rata berpendidikan rendah, untuk itu perusahaan selalu mendorong  karyawan bekerja lebih trampil dan menciptakan cara –cara kerja yang efisien. Pada umumnya pimpinan /pengelola perusahaan lebih mudah mengendalikan atau melakukan pengawasan tenaga kerja (karyawan), karena pimpinan langsung dapat memantau langsung terhadap  masing-masing  karyawan  ketika bekerja.  Yang perlu diperhatikan mengenai tenaga kerja, kurangnya tambahan pengetahuan dari pihak perusahaan atau bekerja sama dengan pihak  diluar perusahaan  untuk memberikan pelatihan atau memberikan pengetahuan bagaimana dapat bekerja yang produktif dan lebih baik.
4. Alat Produksi
                   Sebagian besar menggunakan alat produksi sederhana untuk proses produksi, umumnya mesin yang digunakan berumur tua, dan kurang didukung adanya sumber daya yang memadai, sehingga perusahaan  kurang  dapat menghasilkan produk yang bermutu tinggi, dan terjadi produktivitas rendah yang berakibat terjadi biaya tinggi, dan akhirnya  perusahaan kecil kalah bersaing harga dengan perusahaan menengah dan besar, disamping itu perusahaan kurang mampu mengakses informasi yang berkaitan dengan hasil penelitian pusat litbang dan perguruan tinggi.

c. Aspek  Pemasaran  
          Gambaran penggunaan saluran distribusi pemasaran atau penjualan yang dilakukan selama ini dapat dilihat tabel. Saluran distribusi yang dilakukan sebagian besar pemasaran produk aneka umumnya masih menggunakan pendekatan tradisional, mendistribusikan barangnya terbatas pada penyalur yang dikenal, kurang mengetahui distribusi lanjutan  atas produknya. Kecenderungan cara memasarkan produk melalui pesanan, bila produk telah terjual, penjual cukup puas dan akses ke pasar mudah dilakukan,  sebenarnya pasar yang dicapai terbatas, dan kurang dapat berkembang, hal ini dibuktikan adanya cukup puas bila produknya terjual .
          Secara umum perusahaan belum menggunakan sarana promosi penjualan secara tepat, cara promosi penjualan yang dilakukan  sebagian besar melalui merk yang ada pada kemasan produk,  adapun pameran belum banyak diikuti, hal ini sebabkan karena faktor biaya pameran relatif tinggi bagi usaha kecil.

d. Aspek Kewirausahaan
            Kecenderungan perusahaan memiliki percaya diri tanpa bantuan orang lain usahanya dapat berjalan terus, terdapat upaya untuk memperbaiki kondisi perusahaan secara seksama, sehingga reputasi perusahaan sangat tergantung pada kemampuan yang dimiliki, sebenarnya terdapat inisiatif untuk memajukan perusahaan, hanya karena terbatas pengetahuannya, maka seringkali hal yang dilakukan sebenarnya sudah lama dilakukan pihak lain.. Hal ini seharusnya pemerintah memberikan batasan produk-produk tertentu yang diperbolehkan produksi hanya perusahaan kecil, untuk perusahaan besar dan menengah tidak diperbolehkan, atau ada kebijakan pemerintah untuk membangun jaringan usaha kecil  dengan usaha besar dalam hal memasarkan produk yang dihasilkan usaha kecil.

f.  Aspek Keunggulan Kompetitif (data pendukung)
Nilai keunggulan kompetitif menunjukkan kondisi yang menyebabkan  perusahaan beroperasi secara kontinyu di daerah tersebut dan mempunyai dasa operasi yang semakin kuat.  Berdasarkan  hasil perhitungan table diatas , Kualitas  produk dibandingkan dengan hasil industri sejenis  secara umum, perusahaan menilai hasil produksinya baik, bila dilihat dari sisi ketahanan produk, daya tarik produk, desain produk, dan kemasan, ini menunjukkan tingkat percaya diri sangat tinggi bahwa hasil produksinya bila dibandingkan industri lain sejenis  lebih baik.

(Tugas Membuat Jurnal) BAB III

BAB III
METOTODOLOGI PENELITIAN

1. Rancangan Penelitian
Dalam memperoleh gambaran penelitian mengenai potensi industri kecil dan permasalahan yang dihadapi perusahaan digunakan metode survey.dan penelitian studi deskriptif (descriptive study) tujuan studi ini untuk menjelaskan aspek-aspek yang relevan dengan fenomena yang diamati dan menawarkan ide masalah untuk pengujian atau penelitian selanjutnya, ( Nur indriantoro, 1999: 88). (Singarimbun 1989:3 dalam Moeljadi 1998 : 82) “penelitian survey adalah penelitian yang mengambil sampel dari satu populasi dan menggunakan kuisioner sebagai instrumen pengumpulan data yang pokok”


2.  Lokasi Penelitian
Penelitian ini dilakukan di Kabupaten Malang. Pemilihan lokasi ini berdasarkan pertimbangan bahwa Kabupaten Malang terdapat peluang untuk pengembangan usaha, sehingga perlu adanya pengkajian pengembangan potensi usaha kecil.

3.  Populasi dan Sampel
    a. Penentuan Populasi
    Penelitian dilakukan pada perusahaan bidang usaha aneka dan tekstil yang terdaftar pada dinas perindustrian dan perdagangan Kabupaten Malang, 2003.  Jumlah industri aneka  32 dan Industri  tekstil 48 perusahaan, home industri yang tidak terdaftar pada Dipperindag Malang  10 perusahaan, sehingga  jumlah populasi  90 perusahaan, responden  pimpinan  atau pengelola perusahaan,  dan konsultan  sebagai bahan informasi tentang kondisi industri kecil yang riil.
b. Metode  Pengambilan Sampel
        Karena   penelitian ini survey , adalah penelitian yang mengambil sample dari satu populasi dan menggunakan kuisioner sebagai alat pengumpulan data yang  pokok (Singarimbun, 198 ) ,maka dalam penelitian ini tidak dilakukan pengambilan sampel lebih dahulu dari populasi yang ada, akan tetapi yang dijadikan sampel adalah responden yang bersedia menjawab kuisioner.
c.  Teknik Pengumpulan Data
     Dalam penelitian ini terdapat dua data yaitu data pendukung (Usia, tingkat pendidikan pimpinan/pengelola, masa kerja,  bidang usaha,  jumlah tenaga kerja, dan pengalaman yang dimiliki, keunggulan kompetitif). Dan data utama  meliputi aspek  permodalan, produksi, pemasaran, kewirausahaan, dan pembukuan)

4. Teknik Analisis  Data.
Penelitian ini merupakan studi deskriptif, maka teknik analisis data yang digunakan yaitu deskriptif kualitatif. Tahapan dalam analisis data sebagai berikut :
a. Tabulasi Data ,  hasil kuisioner tersebut akan terjelma dalam angka, tabel-tabel  dari jawaban responden ke masing-masing aspek  yang ada pada industri kecil.
b. Reduksi Data, merupakan suatu bentuk analisis yang menajamkan, menggolongkan, mengarahkan, memperhalus data yang tidak perlu dan mengorganisasi data dengan cara sedemikian rupa hingga finalnya menyakinkan untuk dapat ditarik kesimpulan.
c. Analisis Deskriptif, analisis ini digunakan untuk mengungkap gambaran data lapang secara deskriptif dengan cara menginterpretasikan hasil pengolahan lewat tabulasi data  dan analisis kekuatan, kelemahan,   peluang   dan    ancaman
      (S W O T). Analisis diskriptif tersebut berguna untuk mendukung interpretasi terhadap hasil analisis yang dilakukan.

Selasa, 04 Desember 2012

(Tugas Membuat Jurnal) BAB II

BAB II


2. LANDASAN TEORI
2.1.   Pengertian dan Kriteria Usaha Kecil
 Menurut Undang-Undang Republik Indonesia Nomer 9 tahun  1995 pasal 1 angka 1;  tentang usaha kecil dan koperasi, Usaha kecil adalah kegiatan ekonomi rakyat yang berskala kecil dan memenuhi kriteria kekayaan bersih atau hasil penjualan tahunan serta kepemilikan sebagaimana diatur dalam Undang-Undang.
Kriteria usaha kecil menurut Undang-Undang Usaha Kecil dan kopersi diantaranya adalah :
a.     Memiliki kekayaan bersih paling banyak Rp.200.000.000,00 tidak termasuk tanah dan bangunan tempat usaha .
b.     Memiliki hasil penjualan tahunan paling banyak Rp. 1.000.000.000.00
c.      Milik warga negara Indonesia
d.      Berdiri sendiri bukan merupakan anak perusahaan atau cabang perusahaan yang dimiliki, dikuasi  atau berafiliasi baik langsung maupun tidak langsung dengan usaha menengah dan besar, dan
e.   Berbentuk usaha orang perseorangan, badan usaha yang tidak berbadan hukum, atau badan usaha yang berbadan hukum seperti koperasi.
     
2.2.  Lingkungan Eksternal Perusahaan
Lingkungan eksternal merupakan kondisi diluar perusahaan yang dapat mempengaruhi kehidupan perusahaan. Menurut Viljoen (1991:152 dalam Moeljadi, 1998 : 28 ) lingkungan eksternal ini sering disebut sebagai external Opportunites dan Threats, mencakup political, social, technological, economic,geographic, customers, suppliers, competitors, creditors dan labour. Glueck (1993:87) dalam Moeljadi (1998 : 28) menyebut lingkungan ini sebagai “faktor-faktor luar perusahaan yang dapat menimbulkan peluang atau ancaman”.


2.3.  Lingkungan Internal Perusahaan
Setiap usaha yang dilakukan perusahaan selalu dihadapkan pada situasi yang selalu berubah. Kondisi tersebut tidak mungkin dilaksanakan tanpa adanya proses penyesesuaian terhadap kondisi ekternal yang ada. Jadi lingkungan internal merupakan cerminan kekuatan atau kelemahan dari suatu organisasi perusahaan dan dapat mencerminkan kemampuan manajemen untuk mengelola perusahaan. Hal ini dapat menunjukkan kekuatan sumber daya, meliputi segala aspek material atau non material yang dimiliki perusahaan dalam menjalankan usaha dan fungsinya untuk berproduksi secara komersial. Konsep tersebut terdiri dari kemampuan pengusaha, kemampuan optimalisasi proses produksi yang ada, kapabilitas mengadakan ekspansi pasar, dan pengelolaan keuangannya (Hunger,1993:15 dalam Moeljadi 1998 : 33).

 
2.4.   Segi  Kelemahan Perusahaan Kecil
               Kelemahan perusahaan kecil pada umumnya, ( Marbun, 1993 )
 1. Tidak  atau kurang mempunyai perencanaan tertulis
 2.   Kurang berorientasi ke masa depan, melainkan kepada hari kehari saja
 3.  Kurang memiliki pendidikan yang relevan
 4.  Tanpa menggunakan pembukuan atau pencatatan yang teratur
 5.  Tidak ada atau jarang terjadi pengkaderan
 6.   Cepat puas
             Menurut Thomas W. dan  Norman M. ( 2002 : 23 ), sebab-sebab kegagalan bisnis  sebagai  berikut : Ketidakmampuan manajemen
Ketidakmampuan manajemen kebanyakan bisnis kecil meliputi :
-          Kurangnya pengalaman, lemahnya kemampuan pengambilan keputusan, atau lemahnya kendali keuangan,
-          Pertumbuhan tak terkendali
-          Lokasi yang kurang baik
-          Pengendalian persediaan yang tidak baik

2.5.  Segi Kekuatan  Perusahaan Kecil
            Keberhasilan pada perusahaan di mulai dari kecil sampai menjadi pengusaha nasional atau internasional, keberhasilan tersebut karena berbagai faktor antara lain faktor kejelian, ketajaman menganalisis keadaan, pandai mengikuti dan memanfaatkan situasi, tekun, mudah tanggap pada pembaharuan, dan dilakukan pembinaan terus menerus kepada bawahannya atau karyawannya.
          Kekuatan perusahaan kecil di Indonesia  antara lain karena :
a.       Tidak birokrasi dan mandiri
 b.   Cepat tanggap dan fleksibel

2.6.   Menilai Peluang Pasar
     Perusahaan selalu membutuhkan informasi dan pengetahuan tentang pasar atas produk yang dihasilkan, dengan riset pasar dapat membuat keputusan pemasaran yang lebih baik.  ( Geoffrey G : 2000). Dengan riset pasar dapat membantu :
-          menemukan pasar yang menguntungkan,
-          memilih produk yang dapat dijual,
-          menentukan perubahan dalam perilaku konsumen,
-          meningkatkan teknik-teknik pemasaran, dan
-          merencanakan sasaran-sasaran yang realistik.  
           
2.7.  Prospek  Masa Depan Perusahaan Kecil di Indonesia
               Perkembangan teknologi informasi misalnya komputer, di mana segala sesuatu bergerak dengan cepat dan situasi cepat berubah, apakah eksistensi perusahaan kecil masih dapat diharapkan  atau tidak.
               Di Jerman Barat, Belanda, Inggris atau Amerika terdapat selalu menjumpai mata rantai toko swalayan (supermarket). Namun demikian, secara keseluruhan nasib perusahaan kecil  dapat diharapkan karena beberapa alasan ekonomis dan terkadang non ekonomis. Ternyata perusahaan kecil sering berfungsi sebagai pusat-pusat komunikasi lokal dan bertemu muka sambil belanja. Di Indonesia perusahaan kecil masih potensial khususnya di kota kecil dan daerah terpencil yang merupakan penghasil produk untuk pelengkap dengan sendirinya, selain itu komposisi penduduk Indonesia yang 80 % tinggal di pedesaan.

2.8.  Analisis S W O T
           Dalam dunia bisnis, kekuatan dan kelemahan perusahaan adalah hasil analisis perbandingan antara perusahaan dan perusahaan pesaing. Misalnya perusahaan mempunyai kemampuan berproduksi secara efisien, ternyata perusahaan pesaing memiliki kemampuan teknologi yang lebih efektif dan efisien, maka bagi perusahaan tersebut merupakan kelemahan.   Analisis kekuatan, kelemahan, kesempatan/peluang, dan ancaman ( strength, weakness, opportunity, threats / SWOT )  adalah sebuah teknik yang sederhana, mudah dipahami, dan juga dapat digunakan dalam merumuskan strategi-strategi dan kebijakan – kebijakan untuk pengelolaan perusahaan. Sehingga SWOT tidak mempunyai batasan waktu, artinya akan selalu berubah sesuai dengan perkembangan jaman.